INDUKSI LAKTASI BAGI IBU ADOPSI


INDUKSI LAKTASI BAGI IBU ADOPSI

Sinta Ayu Setiawan, S.ST., M.Gizi

 

ASI adalah makanan yang paling sempurna di dunia. Perkembangan bayi akan lebih pesat jika mulai awal kehidupannya langsung mendapatkan ASI. ASI mengandung nutrisi yang paling lengkap, sehingga bayi akan lebih mudah dalam proses adaptasi pasca persalinan, daya tahan tubuh lebih bagus dan tidak mudah sakit. Dan yang paling penting, terpenuhinya nutrisi yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhannya.  Ikatan emosi dengan ibu pun juga lebih kuat. Tapi bagaimana bagi ibu yang belum atau tidak memiliki kesempatan hamil dan punya bayi? Sehingga mengambil langkah adopsi, tetapi punya keinginan kuat memberikan ASI. Mungkinkah bisa terjadi? Induksi Laktasi jawabannya.

 

Induksi Laktasi adalah teknik merangsang keluarnya ASI pada ibu yang belum pernah menyusui tanpa didahului kehamilan atau telah lama sekali tidak menyusui. Termasuk bagi ibu adopsi, sehingga dapat menyusui langsung bayi adopsi dengan atau tanpa riwayat menyusui terdahulu1.

Proses pembentukan ASI melibatkan unsur hormonal ibu sejak usia kehamilan 16 minggu, tetapi masih tertahan oleh proses kehamilan1. Ketika bayi dan plasenta keluar, hormon yang mempengaruhi proses pembentukan ASI akan menjadi aktif dan ASI mulai keluar2, apalagi bila dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan terdapat ikatan batin bila hisapan bayi efektif. Unsur hormonal yang terlibat saat hamil dan menyusui tersebut dikondisikan dengan pil yang mengandung hormon sintetis (pil KB)3. Produksi ASI diupayakan melalui ikatan batin, hisapan yang efektif, serta bantuan obat yang terkontrol oleh konsultan laktasi.

Keuntungan induksi laktasi bagi ibu dan bayi adopsi, yaitu: 1) Ikatan batin akan terbangun antara bayi dan ibu adopsi5, 2) Bayi mendapatkan zat-zat gizi yang terkandung dalam ASI5, 3) Bayi mendapatkan manfaat ASI yang tidak pernah dapat ditiru oleh susu apapun antara lain sel anti bodi dan anti alergi6, 4) Menyusui langsung memberikan stimulasi untuk perkembangan emosional bayi5.

Proses antara Induksi laktasi dengan menyusui berbeda-beda pada setiap ibu. Ada yang membutuhkan waktu hanya satu minggu namun ada juga yang butuh sampai 4 bulan agar ASI nya keluar. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan induksi laktasi antara lain5:

 

 

 

 

 

1) Keinginan bayi untuk menyusu.

Keberhasilan induksi laktasi akan terjadi bila bayi segera menyusu saat didekatkan pada payudara. Pada awalnya bayi memerlukan bantuan untuk dapat melekat dengan benar pada payudara.

Salah satu penelitian relaktasi menemukan bahwa 74% bayi menolak untuk segera menyusu pada awal laktasi yang disebabkan karena bayi kesulitan melekat pada payudara dan memerlukan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih untuk mengatasinya. Penolakan pada awal laktasi bukan berarti bayi akan selalu menolak menyusu pada ibu, diperlukan kesabaran ibu untuk menghadapi hal ini.

2) Usia bayi. 

Induksi laktasi pada bayi baru lahir sampai bayi berusia kurang dari 8 minggu. Akan lebih mudah berhasil karena melalui proses inisiasi menyusui dini.

 

3) Bayi belum mengenal botol susu. 

Sebuah penelitian melaporkan kesulitan mengajari bayi untuk menyusu bila bayi tersebut sudah terbiasa menggunakan botol susu. Studi dari Lang dkk. juga menemukan bayi dengan berat lahir rendah yang diberikan minum dengan cangkir pada fase transisi perubahan pemberian minum, akan lebih mudah menyusu pada ibu dibandingkan mereka yang mendapat minum dengan menggunakan botol susu.

4) Sudah mendapat makanan pendamping.

Induksi laktasi akan sulit dilakukan pada bayi yang sudah mendapat makanan pendamping. Dianjurkan untuk tidak mengenalkan makanan pendamping sebelum bayi berusia 6 bulan.

Berdasarkan kenyataan itu, para ahli mengatakan bahwa akan lebih baik jika mengadopsi anak sejak masih dalam kandungan. Setidaknya empat bulan sebelum masa kelahiran. Sambil menunggu, ibu adopsi disarankan untuk melakukan serangkaian proses persiapan yang akan memudahkan keluarnya air susu meski tidak ada perubahan hormonal akibat kehamilan pada tubuhnya.

 

Teknik induksi ASI bagi ibu adopsi:.

  1. Melakukan konsultasi dengan konselor laktasi.
  2. Melakukan terapi hormon seperti estrogen atau progesterone tambahan. Hal ini dilakukan untuk meniru efek perubahan hormon selama kehamilan. Terapi hormon ini biasanya berlangsung enam bulan atau lebih3.
  3. Stimulasi pada kedua payudara selama setidaknya lebih dari 100 menit per hari. Anda bisa mengawalinya dengan sesi singkat, semisal 5 menit, dan meningkatkan durasinya hingga 15-20 menit untuk setiap payudara sebanyak 8 hingga 12 kali sehari. Termasuk satu kali di malam hari.
  4. Semakin sering payudara di stimulasi, semakin cepat proses produksi ASI. Bayi baru lahir rata-rata menyusu setiap dua jam sekali, sebanyak 10-12 kali per hari.
  5. Keluarnya ASI bisa dilatih dengan cara memikirkan tentang bayi, menyusui, atau memompa ASI, mendengarkan musik yang menenangkan, mendengar tangisan bayi, dan lainnya. Semua hal itu bisa membantu stimulasi produksi susu. Sebaliknya, stress bisa mengganggu hormon dan berdampak pada keluarnya ASI.
  6. Mengonsumsi obat-obatan atau suplemen herbal yang menambah produksi ASI1 dengan pengawasan konselor laktasi. Makan oatmeal beberapa kali seminggu atau setiap hari pun bisa menambah suplai  ASI.
  7. Akupunktur juga bisa meningkatkan suplai  ASI melalui sekresi hormon prolactin.
  8. Dukungan dari suami, keluarga, dan teman untuk bisa berbagi pengalaman akan sangat berharga.

 

Sumber Pustaka:

  1. International Lactation Consultant Association. 2013. Core Curriculum for Lactation Consultant 3rd Edition. Jones & Bartlett Learning. p289
  2. Wilson-Clay&Hoover. 2013. The Breastfeeding Atlas. Fifth edition. Texas: Latctnews Press.
  3. Schnell, Alyssa. 2013. Breastfeeding Without Birthing. Amarillo: Praeclarus Press
  4. Rais, Isnawati. 2015. “Donor ASI dalam perspektif Islam”. Seminar Relaktasi, Induksi Laktasi dan Suplementasi untuk Membantu Bayi menetek. IKMI-Perklini
  5. Szucs,Kinga A.2010. Induced Lactation and Exclusive Breast Milk Feeding of Adopted Premature Twins. J Hum Lact. 26(3):309-313
  6. World Health Organization. Infant and young child feeding: model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals.2009.p 1-9,77