Kesabaran Berbuah “Manisnya”Keberhasilan


 

Kesabaran Berbuah “Manisnya”Keberhasilan

Dwi Rahmawati adalah sosok yang selalu ceria dan semangat dalam belajar. Senyum yang terkembang setiap saat mewarnai aktivitasnya sebagai seorang Bidan. Pelayanan paripurna yang diberikan melalui Praktek Mandiri Bidan (PMB) yang dirintisnya belasan tahun lalu melengkapi peran nyatanya di masyarakat Trenggalek. Hidupnya menjadi lebih berarti ketika ilmu dan waktunya bermanfaat bagi banyak orang.

 

Berawal dari kepedulian kepada sesama

Perkenalkan nama saya Dwi Rahmawati. Lahir di Trenggalek, 39 tahun yang lalu. Anak kedua dari tiga bersaudara. Kedua orang tua, almarhum Bapak Mukar dan Ibu Siti Marwiyah berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama di sekolah negeri. Setelah lulus dari SMP saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Sekolah ini merupakan sekolah kesehatan swasta yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Pada waktu itu, keputusan untuk melanjutkan sekolah ke SPK merupakan sebuah keputusan langka, karena saat itu yang umum dilakukan oleh teman-teman saya adalah melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK.

Keputusan saya melanjutkan sekolah ke SPK bukanlah tanpa alasan. Saya berani memilih jalan yang berbeda dengan teman-teman saya , karena saat itu saya yakin dengan cita-cita saya menjadi tenaga kesehatan akan mengantarkan saya menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Sejak kecil saya sudah merasa memiliki empati yang tinggi kepada orang-orang di sekitar saya, terutama kepada mereka yang sedang diuji dengan sakit. Saat saya kecil, saya berfikiran alangkah membanggakan dan membahagiakannya ketika saya mampu menolong orang sakit yang sedang membutuhkan pertolongan.

Bertemu dengan kegagalan

Pendidikan SPK saya tempuh selama 3 tahun. Setelah lulus dari SPK, saya bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya mencoba untuk mendaftar dan mengikuti ujian seleksi masuk di akademi keperawatan. Namun sayangnya gagal. Saya mencoba untuk bersabar meski hal itu terasa berat sekali. Kemudian untuk mengobati kesedihan, atas saran Ayah, saya pergi menemui bibi yang seorang bidan di luar kota. Harapan ayah, selain untuk ber silaturahmi dengan saudara, saya akan mendapatkan pengalaman baru karena pada saat itu bibi sudah menjadi seorang bidan dan berpraktik di rumah. Saya berangkat dengan hati yang berat karena masih terbayang kegagalan yang baru saja saya alami. Di luar dugaan, bibi menyambut saya dengan sangat baik. Beliau dengan senang hati mengenalkan dan mengajari saya tentang dunia kebidanan. Dunia yang sama sekali masih baru bagi saya yang seorang perawat. Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk paham dengan dunia kebidanan. Setelah beberapa bulan tinggal dengan bibi, rasa rindu akan ayah dan ibu mendera, sehingga saya memutuskan pulang ke Trenggalek.

Datangnya Kejutan

Ternyata Allah sedang menyiapkan sebuah kejutan indah setelah saya pulang ke Trenggalek.  Kejutan pertama adalah saya diterima bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Trenggalek. Kejutan kedua adalah, Allah menghadirkan jodoh buat saya. Seorang laki-laki yang selalu mendukung keputusan saya, seorang laki-laki yang selalu menyemangati saya untuk terus maju menjadi manusia yang unggul. Suami jugalah yang mengingatkan saya akan cita-cita saya yang sempat tertunda, yaitu melanjutkan sekolah.

Kembali Menuntut Ilmu

Pada tahun 2007, saya mengetahui bahwa Akbid Harapan Mulya sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru. Saya memberanikan diri untuk mendaftar di sana dengan pertimbangan bahwa saya pernah memiliki sedikit pengalaman di dunia kebidanan dari bibi. Pengalaman tersebut yang menguatkan tekat saya untuk kembali ke dunia pendidikan. Selain itu, selama bekerja di rumah sakit, saya ditempatkan di ruangan bersalin. Jadinya klop. Ilmu kebidanan  menjadi kebutuhan tersendiri bagi saya yang awal mulanya seorang perawat. Saat itu kondisi saya sudah berkeluarga, dan memiliki satu anak. Berbekal niat untuk meng upgrade ilmu yang saya miliki, saya mendaftar di Akbid Harapan Mulya Ponorogo. Banyak orang yang bertanya kenapa saya memilih menjadi seorang bidan, padahal dulunya saya adalah seorang perawat. Alasan khususnya tidak ada, namun pilihan ini saya ambil, karena memang pada awalnya saya menyukai kebidanan, namun waktu itu karena dari SMP tidak ada pendidikan yang bisa langsung ke ilmu kebidanan, jadi saya mengambil sekolah keperawatan terlebih dahulu, dengan harapan saya memiliki dasar-dasar ilmu kesehatan sebagai bekal saat sekolah kebidanan nanti.

Kuliah di Akbid Harapan Mulya Ponorogo membangkitkan kembali semangat saya untuk mengejar mimpi menjadi seorang bidan. Akbid Harapan Mulya Ponorogo merupakan Perguruan Tinggi yang cocok untuk belajar karena memiliki tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya, serta ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas. Banyak ilmu yang saya dapatkan selama kuliah disana, baik ilmu kebidanan atau ilmu penunjang lainnya. Selama saya belajar disana, saya tidak hanya belajar ilmu kebidanan saja, namun softskill saya juga ikut terasah dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan yang ada di Akbid Harapan Mulya Ponorogo.Sehingga ketika sudah lulus, saya merasa memiliki bekal yang cukup untuk kembali meniti karier di dunia kesehatan, khususnya di bidang kebidanan.

Mantapnya Karier

Setelah lulus dari Akbid Harapan Mulya Ponorogo, saya kembali berkarier di salah satu RS swasta di Trenggalek, dan juga mendirikan Praktik Mandiri Bidan (PMB) di rumah. Selain mendirikan PMB, untuk memberikan pelayanan yang paripurna, saya juga menyediakan layanan baby spa dan baby swim untuk bayi usia 7 bulan – 1,5 tahun.

Melalui BPM yang saya dirikan, saya dapat memaksimalkan pengabdian saya sebagai tenaga kesehatan. Saya memiliki program-program khusus bersalin dan pengobatan anak usia pra-sekolah (di bawah 6 tahun) gratis untuk keluarga yang kurang mampu. Ternyata setelah mampu menolong orang lain, saya merasa bahwa hidup saya memiliki nilai dan manfaat bagi sesama. Hal inilah yang membuat saya menjadi berarti sebagai makhluk ciptaanNya. Semua ini dapat saya capai karena Allah mengizinkan saya sampai pada titik kehidupan ini melalui ilmu yang saya miliki, dan salah satu sumber ilmu saya adalah dari Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo.

Saya menyadari, pencapaian saya saat ini tidak lepas dari kerja keras dan semangat pantang menyerah serta dukungan penuh keluarga, tidak lupa juga peran Akbid Harapan Mulya. Dari sana saya mendapatkan ilmu sebagai bekal saya dalam ber karier. Sehingga saya berani mengatakan bahwa bergabung dengan Akbid Harapan Mulya Ponorogo merupakan pilihan yang tepat. Akbid Harapan Mulya memberikan kesempatan pada saya yang mulanya sudah tidak yakin untuk dapat melanjutkan pendidikan menjadi seseorang yang dapat kembali bersekolah dan terjun ke masyarakat dengan ilmu yang diamalkan.

Saat ini saya bersyukur atas pencapaian yang telah saya dapatkan. Saya bersyukur pernah gagal, karena dari kegagalan saya dapat belajar tentang sikap sabar. Dengan sikap sabar saya menyadari bahwa sebuah cita-cita harus terus diyakini dan diperjuangkan agar menjadi sebuah kenyataan. Bagi saya orang yang berhasil bukan orang yang tidak pernah gagal, namun orang yang berhasil adalah mereka yang pernah gagal namun tidak takut untuk bangkit dan kembali berjuang. Dan untuk bisa bangkit dari kegagalan tersebut, kita perlu belajar, belajar dari masa lalu dan belajar menyusun strategi baru untuk masa depan.

Untuk adik-adikku yang masih belajar di Akbid Harapan Mulya Ponorogo, jangan takut gagal dan tetap semangat berjuang menuntut ilmu. Usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Manfaatkan sebaik mungkin sarana dan prasarana belajar di Akbid Harapan Mulya Ponorogo. Karena ini adalah masa-masa emas kalian dalam menuntut ilmu. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada bapak ibu dosen dan staf Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo, saya bangga dan bersyukur menjadi alumni Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo. Sukses dan jayalah selalu Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo.