MANTAN TKI ITU SEKARANG BERGELAR DOKTOR


MANTAN  TKI ITU SEKARANG  BERGELAR  DOKTOR

 

“Sepahit apapun pengalaman hidup, jika sudah berlalu akan terasa manisnya.”. Bagi Hariyanto, kalimat ini memiliki kedalaman arti agar selalu bersyukur dan positive thinking atas apa pun ujian hidup yang dijalani. Tuhan pasti telah menyiapkan hal yang terbaik dan terindah bagi hambaNya. Gelora perjuangan hidup membawanya menapak di Negeri Jiran sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Semangat menuntut ilmu tidak pernah padam dalam benaknya. Hingga di tahun 2019, Hariyanto resmi di kukuhkan sebagai Doktor Pendidikan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta.

 

 

 

Hariyanto lahir di Lamongan, 08 Mei 1974. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana, bapak ibunya bahkan tidak lulus SR (Sekolah Rakyat). Kondisi orang tuanya tidak memungkinkan Hariyanto melanjutkan kuliah. Hingga suatu hari dia memberanikan diri dan membulatkan tekad untuk menyampaikan kepada bapaknya bahwa dia ingin pergi merantau ke Malaysia. Awalnya, kedua orang tuanya menolak, tetapi melihat tekad kuat pemuda 17 tahun itu, akhirnya, kedua orang tuanya memberinya izin.

Hari-hari dilalui hingga tidak terasa hampir 2 tahun lamanya dia di Negeri Jiran. Semangatnya untuk menuntut ilmu tidak bisa padam. Dia gemar membaca buku. Bahkan ikut kursus bahasa Inggris hingga intermediate level di Kuala Lumpur Malaysia. Awal tahun ketiga, Hariyanto mendapat kabar jika bapaknya menyusul merantau ke Malaysia. Saat dia mengunjungi bapaknya di Kuantan, dia berpamitan untuk pulang ke Indonesia. Pesan bapaknya yang masih segar di ingatannya adalah ’”Pulanglah nak, dan jangan kembali ke sini. Lanjutkan kuliah! Kalau kamu kembali ke sini, kamu akan seperti teman-temanmu yang lain, tetap menjadi buruh di negeri orang. Kalaupun suatu saat kamu bisa ke Malaysia lagi, bukan sebagai TKI, tetapi sebagai mahasiswa, atau sebagai orang yang sudah bisa mengenyam pendidikan setingi-tingginya.” Begitulah, seperti mendapat suntikan energi baru, akhirnya Hariyanto pulang ke Indonesia.

Tahun 1995 dia melanjutkan studi di IKIP PGRI Tuban pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sambil mengajar di MIM 13 Brengkok dan MTs M 16 Brengkok. Merintis pengalaman mengajar di kelas III Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tahun 2001 dia mendaftar di Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Kuliah sambil bekerja sebagai penerjemah freelance plus mengajar di sebuah bimbingan belajar di Malang sampai lulus S2.

Pengalamannya menjadi Dosen dimulai sejak tahun 2006 di Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo. Dia mengajar mata kuliah bahasa Inggris dan Metode Penelitian. Berbagai kegiatan baik pelatihan, workshop, seminar dan lain-lain semakin menajamkan keilmuannya. Hingga dia membulatkan tekad untuk melanjutkan studi S-3 / Program Doktor. Tepatnya di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada program studi Ilmu Pendidikan. Keinginan yang kuat untuk mengembangkan pendidikan tinggi yang lebih maju diwujudkan ketika dia mendapatkan amanah untuk menjadi Direktur periode tahun 2013-2017. Pada masa kepemimpinannya tingkat kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan mendapatkan perhatian lebih, peningkatan SDM dosen dan tenaga kependidikan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, pengembangan kegiatan kemahasiswaan, publikasi dosen baik melalui jurnal, penerbitan buku ajar, dan majalah telah dirintisnya. Hasilnya terlihat dari beberapa penghargaan yang diperoleh Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo sebagai Perguruan Tinggi Berprestasi selama dua kali, dan sebagai perguruan tinggi Unggulan di Jawa Timur. Singkatnya, dia bersama seluruh civitas akademika telah berhasil menggerakkan dan mengangkat nama baik perguruan tinggi diantara perguruan tinggi di Jawa Timur.

Suka dan duka dalam melanjutkan studi di S-3 dirasakan begitu berat. Tetapi baginya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Hanya menunggu waktu kapan dapat dipetik hasil perjuangan tersebut. Menurut suami dari Afrilia Eka Prasetyawati, S.Pd dan ayah dari Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto, dan Shamita Maulida El Queena Harfianto ini, bahwa keberhasilannya dalam menempuh pendidikan Doktor tidak lepas dari dukungan keluarga, diantaranya isteri, dan anak-anak. Alhamdulillah semua berjalan lancar, lulus dan akhirnya dia dikukuhkan menjadi seorang Doktor Ilmu Pendidikan. Doa yang tak putus-putus dari kedua orang tua, dukungan moral dan material dari segenap keluarga adalah kunci dari keberhasilannya.