LANGKAH KAKI BIDAN SARI WIDJAYANTI, A.Md.Keb.


LANGKAH KAKI BIDAN SARI WIDJAYANTI, A.Md.Keb.

 “HIDUP ITU HARUS BERANI BERJUANG”

 

Cantik, kalem dan bersahaja begitulah sosok Bidan Muda yang satu ini. Bekerja tanpa mengenal lelah memberikan pelayanan kesehatan kepada banyak orang, khususnya Ibu dan Anak. Rasa lega akan melingkupi hati jika pasien yang ditolongnya  sehat dan selamat. Walapun sebenarnya menjadi seorang Bidan bukanlah impiannya, tetapi  profesi Bidan yang saat ini disandangnya ibarat urat nadi yang telah menjadi nafas dalam hidupnya.

 

Cerita ini berawal dari sebuah kota kecil di ujung timur wilayah Jawa Timur. Sebuah kota yang berada di bawah kaki Gunung Semeru. Kota Lumajang merupakan tempatnya dilahirkan, 31 tahun yang lalu. Kedua orang tuanya memberinya nama Sari Widjayanti. Bidan Sari merupakan bungsu dari empat bersaudara. Lahir dan besar di kota kecil Lumajang membuatnya sangat lekat dengan kesederhanaan. Ayahnya bernama Muntiri, seorang Pegawai Negeri Sipil dan Ibunya bernama Istini, seorang Wiraswasta. Sejak kecil, kedua orang tuanya selalu mengajarkan pentingnya semangat dalam merajut impian, terutama pendidikan.

Dari sekolah dasar, menengah dan atas dihabiskan di Kota Lumajang. Di bangku sekolah dasar dan menengah dijalani seperti anak seusianya, baru kemudian ketika sampai pada bangku SMA, prestasi organisasinya sangat menonjol. Bahkan pada saat itu, dia dipercaya menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya, yang notabene sepanjang sejarah organisasi kesiswaan baru kali ini ketua OSIS nya seorang perempuan.

Lepas dari sekolah menengah atas, keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi sangat kuat, tapi kebingungan sempat menghinggapinya. Orang tuanya mengarahkannya untuk kuliah di kesehatan, jadi seorang Bidan. Alasan yang dikemukakan sangat sederhana sebenarnya, biar ada anaknya yang sekolah di kesehatan. Tidak pernah terbersit dalam benaknya untuk menjadi seorang Bidan pada saat itu. Dia berfikir akan sangat berat belajar di kebidanan, apakah dia mampu. Berkutat dengan orang-orang yang mau melahirkan dan urusan kesehatan lainnya. Akan tetapi setelah diskusi dan berbagai pertimbangan, besarnya dorongan, dukungan dan kepercayaan kedua orang tua dan kakak-kakaknya, akhirnya Sari (begitu dia biasa disapa) memutuskan untuk kuliah di Kebidanan.

Perguruan tinggi pertama yang dituju adalah salah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang. Nasib baik rupanya belum berpihak kepadanya. Sari tidak lolos dalam proses seleksi. Tidak pupus harapan, Sari mulai melirik beberapa perguruan tinggi swasta yang berkualitas sebagai alternatif pilihan lanjut. Hingga pilihannya jatuh pada Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo. Tahun 2007 sebagai start awal Sari belajar di Ponorogo. Bukan hal yang mudah belajar di kebidanan. Banyak suka duka yang dilalui selama menjadi mahasiswa.Sistem pembelajaran yang terstruktur cukup menguras pikiran, perasaan dan tenaga. Hampir tidak ada waktu untuk berleha-leha atau bermain. Sari harus berkejaran dengan waktu dalam memenuhi target-target akademis di kampusnya. Satu yang dia yakini, tidak ada satu keberhasilan tanpa usaha, kalau ingin hidup sukses harus berjuang sekuat tenaga. Impian menjadi seorang Bidan harus diraih. Jauh-jauh datang dari Lumajang untuk belajar harus terbayar tuntas dengan prestasi. Dorongan dari keluarga, teman-teman di kampus yang saling support mengalahkan rasa sakit yang mendera selama pendidikan. Ketika masuk semester 3, tiba-tiba ujian datang. Kendala keuangan datang menhampirinya, tetapi itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus melangkah maju. Sari berfokus bagaimana dia bisa menemukan solusi dari permasalahannya. Hingga akhirnya atas saran teman, dia menjadi asisten Bidan Senior di Desa Badegan, Ponorogo. Kuliah sambil kerja dilakoninya. Setiap pagi kuliah, sore harinya dia membantu di Bidan Praktek Mandiri (BPM). Demikian ritme aktivitas itu dilaluinya sampai dia menyelesaikan masa pendidikan di D3 Kebidanan, lancar tanpa halangan.

Akhirnya, pada tahun 2010, Sari diwisuda dan berhak menyandang gelar Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb.) di belakang namanya. Rasa haru membuncah. Ternyata perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Dia lulus tepat waktu. Sari bersyukur, setiap ujian yang menghampirinya mendatangkan banyak hikmah tersendiri baginya. Pengalaman di lahan kerja semasa kuliah semakin memantapkan skill nya sebagai Bidan Muda. Surat Izin Praktek Bidan pun diurusnya untuk persiapan praktek mandiri nantinya. Hingga tiba tahun 2012, Bidan Sari menikah dengan pemuda dari Siman, Ponorogo dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Setelah menikah, tidak menyurutkan panggilan jiwanya sebagai seorang Bidan. Dengan berpedoman pengalaman adalah guru terbaik, Bidan Sari kemudian bekerja di Rumah Bersalin Hasyim Asy’ari selama 2 tahun. Setelah itu bergabung di Rumah Sakit Muhammadiyah Ponorogo. Setelah lepas kontrak, Bidan Sari kembali terpanggil untuk membantu di salah satu BPM yang ada di Desa Badegan, Ponorogo.

Waktu terus berlalu begitu cepat, kemandirian dalam memberikan tindakan dan skill yang semakin terasah akhirnya membulatkan tekad Bidan Sari untuk mantap membuka Praktek Mandiri di rumah. Tentu semuanya butuh waktu agar tempat prakteknya berkembang. Semua dijalani dengan ikhlas. “Hidup itu harus berani berjuang, berani mengambil keputusan, insyaallah, Allah akan menunjukkan jalanNya kepada kita”ucapnya mantap.