PROSPEK PROFESI BIDAN DI ERA MILLENIA


 

PROSPEK PROFESI BIDAN DI ERA MILLENIA

Oleh : Sumini, S.Si.T., M.Kes

 

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.

Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kita telah memasuki era globalisasi. Di era globalisasi ini, dunia terasa tanpa batas sehingga mengakibatkan terjadinya banjir informasi. Begitu juga dengan pelayanan kesehatan yang semakin maju dengan datangnya modal-modal asing, rumah sakit asing, maupun tenaga asing. Bidan merupakan suatu profesi dinamis yang harus mengikuti perkembangan di era ini. Oleh karena itu bidan harus berpartisipasi mengembangkan diri mengikuti permainan global. Partisipasi ini dalam bentuk peran aktif bidan dalam meningkatkan kualitas pelayanan, pendidikan dan organisasi profesi.

Kalau saja tidak ada bidan, tidak bisa dibayangkan bagaimana kesibukan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Baru terasa mules, atau mungkin pembukaan satu ibu hamil sudah ribut, dokter harus menunggu menjawab kengerian mereka. Memang pembangunan kesehatan di Indonesia masih diwarnai rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas serta bayi pada masa prenatal yang ditandai masih tingginya angka kematin ibu (AKI) karena melahirkan. Itu lah sebabnya, peran bidan dalam pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana perlu mendapat perhatian besar demi kelangsungan hidup ibu dan anak.

Seiring perkembangan era teknologi dan globalisasi saat ini, peran bidan menjadi ujung tombak kelangsungan hidup matinya seorang anak manusia yang lahir ke dunia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 66% persalinan, 93% kunjungan antenatal dan 80 % dari pelayanan keluarga berencana dilakukan oleh bidan. Bidan sangat berperan dalam pencapaian 53 % prevalensi pemakaian kontrasepsi. Apalagi, 58% pelayanan kontrasepsi suntik dilakukan oleh bidan praktek swasta dan 25% pemakai kontrasepsi Pil, IUD dan implant dilayani oleh bidan praktek swasta. Disisi lain, sukses yang telah diraih selama ini menimbulkan tantangan baru bersama dengan kemajuan pembangunan di tanah air. Kesejahteraan yang semakin meningkat disertai dengan tingkat pendidikan masyarakat akan menimbulkan tuntutan kualitas pelayanan. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai organisasi profesi yang sangat peduli pada anggotanya serta sensitif pada masalah kesehatan yang ada di negara ini senantiasa memperhatikan tingkat profesionalisme para bidan. Berbagai upaya telah dilakukan IBI dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota dalam pemberian pelayanan serta kelengkapan sarana sesuai standar. Dengan kekuatan organisasi pada setiap jenjang kepengurusan, hampir setiap cabang IBI telah mempunyai kantor sekretariat tempat melakukan aktifitas yang merupakan center pembinaan anggota, bahkan juga tempat pelayanan milik organisasi sebagai tempat meningkatkan ketrampilan anggota melalui program magang dan sekaligus merupakan tempat usaha yang berbadan hukum dengan nama Yayasan Buah Delima. Melalui kegiatan yayasan ini, IBI melengkapi kebutuhan para bidan baik berupa sarana pelayanan termasuk obat dan alat kontrasepsi maupun berupa dana untuk meningkatkan tempat pelayanan. Di sela kesibukan menempuh pendidikan formal tingkat akademi yang merupakan standar minimal pendidikan bidan atau lebih atas lagi, para pengurus masih menyempatkan melakukan pembinaan di setiap tingkat kepengurusan. Di tingkat provinsi diberikan kepada pengurus cabang dengan muatan kebijakan-kebijakan organisasi, pengembangan pengetahuan baru yang akan diteruskan kepada anggota di tingkat cabang dan ranting sebagai upaya pemberdayaan pengurus.

Di era globalisasi yang tengah dihadapi Indonesia saat ini, peran bidan semakin berdaya saing tinggi, profesi bidan saat ini tidak saja dituntut cerdas secar intelektual di bidangnya, akan tetapi juga harus mampu membuktikan dirinya cerdas spiritual dan emosional berinteraksi sosial.

Tuntutan dan harapan ini akan melahirkan Sumber Daya Manusia  yang unggul, bersemangat tinggi, mandiri, pantang menyerah dan pembelajar sepanjang hayat, sikap-sikap demikian adalah modal dasar pengembangan diri untuk menjawab tantangan dunia kesehatan khususnya kebidanan yang sangat kompleks dewasa ini.

Bidan adalah seseorang yang telah menjalani program pendidikan kebidanan, yang seharusnya diakui di negara tempatnyan berada, berhasil menjalankan program studinya di bidang kebidanan dan memenuhi kualifikasiyang diperlukan untuk dapat terdaftar dan/ atau izin resmi untuk melakukan praktek kebidanan. Ia harus dapat memberikan supervise, perawatan dan saran yang diperlukan kepada ibu selama periode kehamilan, persalinan dan pascapartum, membantu kelahiran sebagai tanggung jawabnya, dan merawat bayi serta bayi baru lahir. Perawatan ini mencakup tindakan preventif, deteksi keadaan abnormal pada ibu dan anak, upaya mendapatkan bantuan medis dan pelaksanaan tindakan kedaruratan bila bantuan medis tidak tersedia. Bidan memiliki tugas penting dalam hal konseling dan penyuluhan kesehatan tidak hanya bagi ibu tetapi juga keluarga dan komonitas, tugas tersebut harus meliputi penyuluhan antenatal dan persiapan menjadi orang tua dan dikembangkan sampai area tertentu, sepeti: ginekologi, keluarga berencana dan perawat anak. Bidan bisa praktek di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, di rumah dan layanan lainnya.

Secara umum, profesi merupakan pekerjaan yang memiliki pengetahuan khusus, melaksanakan peranan bermutu, melaksanakan cara yang disepakati, merupakan ideologi, terikat pada kesetiaan yang diyakini dan melalui pendidikan perguruan tinggi. Profesi sebagai suatu pekerjaan dalam melaksanakan tugasnya memerlukan tehnik dan prosedur, dedikasi, sert peluang lapngan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan, memiliki kode etik yang mengarah pada orang atau subyek. Profesi dapat pula diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para anggotanya. Keahlian tadi diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu.

Mengenai ciri-ciri jabatan tersebut sebagai profesi, meliputi:

  1. Bersifat unik.
  2. Dikembangkan dengan teliti.
  3. Mempunyai wadah organisasi.
  4. Pekerjaan yang mempunyai kode etik.
  5. Pekerjaan yang mendapat imbalan jasa.
  6. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh orang yang memiliki profesi tersebut.

Bidan sebagai tenaga profesional termasuk rumpun kesehatan. Untuk menjadi jabatan profesional, bidan harus mampu menunjukkan ciri-ciri jabatan profesional, yaitu:

  1. Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis.
  2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan.
  3. Keberadaannya diakui dan diperlukan masyarakat.
  1. Mempunyai peran dan fungsi yang jelas.
  2. Mempunyai kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah.
  3. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah.
  4. Memiliki kode etik bidan.
  5. Memiliki etika bidan.
  6. Memiliki standar pelayanan.

            10.   Memiliki standar praktek.

11.   Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sebagai kebutuhan masyarakat.

12.  Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi.

Sebagai bidan profesional, selain memiliki syarat-syarat jabatan profesional bidan juga dituntut memiliki tanggung jawab sebagai berikut :

  1. Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date terus mengembangkan ketrampilan dan kemahiran agar bertambah luas serta mencakup semua aspek peran seorang bidan.
  2. Mengenali batas-batas pengetahuan, ketrampilan pribadinya dan tidak berupaya melampaui wewenangnya dalam praktek klinik.
  3. Menerima tanggung jawab untuk mengambil keputusan serta konsekuensi dari keputusan tersebut.
  4. Berkomunikasi dengan pekerja kesehatan lainnya (bidan, dokter dan perawat) dengan rasa hormat dan martabat.
  5. Memelihara kerjasama yang baik dengan staf kesehatan dan rumah sakit pendukung untuk memastikan system rujukan yang optimal.
  6. Melaksanakan kegiatan pemantauan mutu yang mencakup penilaian sejawat, pendidikan berkesinambungan, mengkaji ualang kasus audit maternal/ perinatal.
  7. Bekerjasama dengan  masyarakat tempat bidan praktek, Meningkatkan akses dan mutu asuhan kebidanan.
  8. Menjadi bagian dari upaya meningkatkan status wanita, kondisi hidup mereka dan menghilangkan praktek kultur yang sudah terbukti merugikan kaum wanita.

Tuntutan berat terhadap tugas bidan adalah selalu berhadapan dengan sasaran dan target pelayanan kebidanan, KB dan pelayanan kesehatan masyarakat dengan memperkuat kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan, dan sejumlahkeahlian yang diterima dan berguna bagi masyarakat. Konsekuensi logis dari semua itu karena kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan dan keahlian yang bermanfaat dan diterima oleh sebuah masyarakat itu senantiasa berubah. Maka untuk menghadapi masyarakat seperti itu seorang bidan harus mempersiapkan segenap kemampuan dan keahliannya untuk menghadapi segala bentuk perubahan. Proses dinamika masyarakat itulah yang menyebabkan bidan dapat menjadi agen pembaharu yang mengambil peran besar, dan peran ini akan dapat dimainkan oleh bidan jika alasannya memang mendayagunakan secara optimal. Masalah ketenagaan atau bidan merupakan masalah besar yang dihadapi para pemimpin mengembangkan sumber daya manusia itu ( bidan ) terutama pada saat bertugas di desa pada lingkungan yang memiliki kebudayaan yang sangat beragam.

Sektor kesehatan masih menjadi salah satu sektor favorit melanjutkan kuliah bagi sebagian anak muda di negara ini. Ini tidak lain karena prospek kerjanya yang sudah pasti dan terarah. Hampir tidak ada lulusan kesehatan yang menganggur. Salah satu program studi di sektor kesehatan adalah Kebidanan. Di program studi ini, mahasiswa akan mempelajari bagaimana menjadi seorang tenaga kesehatan Bidan, yang melayani masyarakat untuk persalinan, dan lain sebagainya, oleh karenanya yang masuk Kebidanan hanyalah para wanita saja. Dipelosok-pelosok, tentu saja Bidan bukan saja menjadi orang yang membantu persalinan, tetapi juga mengobati penyakit-penyakit lainnya, layaknya seorang dokter. Apalagi masih banyak sekali daerah-daerah di pelosok Indonesia yang membutuhkan tenaga ahli di bidang kesehatan seperti Bidan. Sehingga, tentu saja selain mempunyai prospek yang baik, Bidan juga merupakan pekerjaan yang mulia, ikut membantu dan menolong masyarakat.

Berikut beberapa prospek kerja dari lulusan Kebidanan :

  1. Instansi Kesehatan Pemerintah / PNS

Ya, setelah lulus, banyak dari lulusan Kebidanan yang bekerja di Instansi Kesehatan Pemerintah, dan menjadi PNS. Contohnya seperti di Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah, Puskesmas, dan lain sebagainya.

2. Klinik / Balai Pengobatan

Saat ini semakin banyak Klinik dan Balai Pengobatan swasta yang modern, tentunya untuk membantu meningkatkan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat, bekerja di sektor swasta juga tidak kalah menariknya dengan menjadi PNS.

3. Rumah Sakit

Lulusan Kebidanan juga bisa melamar ke Rumah Sakit, baik itu RSUD maupun Rumah Sakit Swasta. Biasanya akan ditempatkan dibagian persalinan, bersama dokter persalinan.

4. Membuka Klinik Sendiri / Praktek Mandiri Bidan

Jika telah mendapatkan sertifikasi profesi Bidan dan tidak ingin bekerja pada orang lain, bisa saja mendirikan klinik dan mengajukan ijin praktek sendiri.

5. Bidan ke luar negeri.

Organisasi profesi telah bekerjasama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) untuk mengirim sebagian bidan ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan pengiriman adalah Timor Leste. Pengiriman ke negara lain yaitu Kanada, Australia, Amerika Serikat dan Dubai.